Mengenal Sipinang, Palembayan, Agam.

Selamat siang guys, kali ini saya akan berbagi informasi tentang sebuah nagari dingin nan mempesona. Namanya Nagari Sipinang, Kec. Palembayan, Kab. Agam. Belum pernah dengar kan? Jangan bayangkan kalau di Nagari ini penduduknya suku mentawai ya..seperti informasi pertama yang kami dengar waktu pertama kali tahu kami ber- KKN di nagari ini. Itu salah besar guys, penduduk nagari ini 100% orang minang asli yang berasal dari Bukittinggi dan sekitarnya. Bahkan di Jorong Paraman, masih kita dengar sebutan Biay untuk ibu. 

Nagari Sipinang ini, terdiri dari tiga jorong. Namanya Jorong Kampuang Tabu, Jorong Sipinang, dan Jorong Paraman. Nagari ini memiliki 3 Masjid dan  3 Surau. Masing-masing Masjid tersebar di setiap jorong. Hanya di Jorong Paraman memiliki 3 surau, hal ini disebabkan oleh kondisi wilayah Jorong paraman yang terpisah oleh bukit-bukit.

Nah, karena saya ber-KKN di Jorong Sipinang. Jadi, saya akan menguraikan beberapa fakta unik tentang Jorong Sipinang.

  1. Nama Sipinang, bukan berarti sepi dan tenang ya..Sipinang

    berasal dari kata Sipi, yang berarti tepi. Hal ini disebabkan karena letak pemukiman penduduk di wilayah perbukitan yang dikelilingi ngarai.

  2. Jorong Sipinang memiliki posisi yang strategis terletak di tengah-tengah Nagari Sipinang, yaitu antara Jorong kampuang Tabu dan Jorong Paraman. Jorong sipinang ini memiliki luas kurang lebih 300 Ha yang terdiri dari pemukiman, sawah, ladang dan hutan.
  3. Jarak tempuh dari Jorong Sipinang ke Kec. Palembayan adalah 11 KM, Sedangkan ke Kabupaten Agam sekitar 50 KM. Akses jalannya masih kecil ya guys, hanya bisa dilewati mobil minibus karena kondisi wilayahnya berbukit-bukit, jadi jalannya berkelok dan menanjak.
  4. Jumlah penduduknya hanya 124 Jiwa. Yang terdiri dari 68 Laki-laki dan 56 Perempuan. Mayoritas penduduk pribumi asli Minangkabau dan beragama Islam.
  5. Menurut keterangan Bapak Ardinal, wakil Kepsek SD N 22 Sipinang, sekolah ini pernah di nobatkan sebagai SD N terkecil di Indonesia karena jumlah muridnya hanya 8 orang. Sewaktu saya KKN di Jorong Sipinang Tahun 2016, jumlah muridnya hanya 12 orang. Dan gurunya yang aktif cuma 2 orang.
  6. Bagi yang suka mengendarai motor trail, nah bisa melewati jalur Bukittinggi Palembayan. Di jamin, jalurnya menantang buat kamu yang bernyali.
  7. Makanan Khasnya adalah Pawa. Pawa itu merupakan makanan yang terbuat dari buah nangka yang masih kecil, jeruk nipis, cabe rawit, kemudian bawang merah yang ditumbuk halus mengggunakan lesung. Ini nih, yang bikin perantau rajin pulang kampung setiap tahun. Kata penduduk setempat, makanan ini bisa menyembuhkan demam lho.(tapi bagi saya rasanya aneh, mungkin belum terbiasa kali ya..hehe. skip)
  8. Yang unik dari budaya Sipinang adalah Simuntu yang hanya keluar pas lebaran. Simuntu ini akan melakukan tarian di sepanjang jalan Sipinang. Orang yang menjadi Simuntu ini menggunakan ijuk untuk menutupi seluruh badannya. Tujuannya adalah untuk menghibur perantau yang pulang kampung. Ini nih yang bikin rame pas lebaran.
  9. Disini belum ada listrik permanen ya guys, baru ada PLTA mini yang pemakaiannya terbatas. Satu rumah hanya kebagian 0,5-1 Ampere. Jadi serba susah, nggak bisa nyetrika baju, dll.
  10. Walaupun nagarinya dingin, disini tidak ada sumber air seperti sumur ya guys. Karena letak wilayahnya di perbukitan jadi sumber airnya jauh di bawah ngarai. So, masyarakat disini membuat bak mandi berukuran besar untuk menampung air hujan. Yang susahnya kalau musim kemarau, suhunya dingin banget tapi airnya Nggak ada. (Kami bhkan pernah g mandi selama tiga hari, hehe)
  11. O ya..penduduknya..di jamin ramah sama orang asing. Jadi, kalau mau ngerasain bagaimana kearifan lokal yang masih terjaga..kesini aja.
  12. Alamnya masih asri banget guys..so, bagus untuk kesehatan. kalau mau istirahat dari hiruk pikuk perkotaan, disini boleh di jadikan tujuan.

Sekian untuk kali ini ya guys, terima kasih, semoga bermanfaat.

Note: Mohon koreksi, kalau ada keterangan yang salah.(0_0)

 

Iklan

Slogan Politik

Pemilu identik dengan perang gagasan. Pada masa kampanye, para pendukung partai politik berlomba-lomba menciptakan slogan-slogan untuk menarik perhatian pemilik suara.

Slogan adalah perkataan atau frasa yang mudah di ingat dan digunakan oleh kelompok ata bisnis tertentu untuk menarik perhatian. Slogan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): perkataan atau kalimat pendek yang menarik, mencolok mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideology golongan, organisasi, partai politik, dan sebagainya.

Kata slogan jika disandingkan dengan politik berarti frasa atau kalimat pendek yang menarik, sederhana, dan gampang diingat, tetapi mengandung ide yang kuat untuk menjelaskan tujuan/program politik, posisi politik, atau menjawab persoalan mendasar masyarakat.

            Slogan “Hope” dan “Change We Can Believe In”, pernah populer di Amerika pada pemilu 2008. Slogan yang hanya beberapa kata ini mengantarkan harapan rakyat pada Obama yang di terjang krisis ekonomi.

Lalu bagaimana Slogan politik di Indonesia?

Pada tahun 1955, pemilu diadakan dengan jumlah partai yang tidak terbatas. Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota DPR dan Konstituante. Posisi lima besar pada pemilu ini ditempati oleh PNI, Masyumi, NU, PKI, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

Soekarno selalu menghembuskan jargon NASAKOM-nya untuk menyeimbangi kekuatan artai politik yang ada. Terbukti, lima partai besar itu mendominasi kursi di DPR dan Konstituate dengan jumlah berimbang.

Pada Pemilu 1971, ada sepuluh partai yang menjadi peserta pemilu, yaitu: Partai Katolik, PSII, NU, Parmusi, Golkar, Parkindo, Murba, PNI, Perti, dan IPKI.

Golkar sebagai partai politik baru yang di dukung oleh pemerintah dan ABRI memiliki slogan “Politik No, Pembangunan Yes.” Sebagai representasi visi dan misi pemerintah. Golkar seringkali menggunakan kegagalan partai politik di masa lalu untuk melemahkan partai politik lain. Di beberapa daerah, pemilih diharuskan untuk mendaftar sebagai anggota partai.  Golkar mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa menentang Golkar berarti menentang pemerintah dan mereka diancam dengan tidak ada pekerjaan dan layanan dari pemerintah. Para pemimpin militer menjadi ketua Golkar setempat untuk mengawasi para pemimpin sipil dari dekat. Daftar nama caon partai disaring dan banyak   nama dikeluarkan dari daftar pemilih. Pemimpin-pemimpin partai yang kurang simpati kepada penguasa militer dipaksa keluar dari kedudukan mereka di partai.

Partai PNI melakukan kampanye anti-Golkar di bawah pimpinan Hadisubeno ketua umum PNI. Partai PNI yang berhubungan erat dengan Soekarno memiliki Slogan “Sepuluh Soeharto, Sepuluh Nasution, dan Segerobak Penuh Jenderal tidak akan dapat menyamai Soekarno.” Meski sudah melakukan kampanye dengan semangat, usaha Hadisubeno untuk ikut daam pemilu gagal karena ia meninggal sebelum pemilu dilaksanakan. Kampanye PNI tidak berjalan mulus setelah itu.

Sebagai partai baru, Parmusi juga ikut ambil bagian pada pemilu 1971 dan melakukan kampanye. Akan tetapi tidak berjalan mulus. Parmusi belum menguasai cara melakukan kampanye sehingga kampanye Parmusi juga bernasib sama dengan PNI. Sedangkan NU menjadi partai yang netral dalam berkampanye. Slogan mereka tak jauh dari “Orang Islam harus memilih sesame Islam.” Namun, NU tidak menyerang pemerintah terang-terangan pada masa kampanye itu.

Pada akhirnya, pemerintah memenangkan pemilu 1971 dengan perolehan suara terbanyak.

Pada tahun 1974, pemerintah melakukan penyederhanaan partai politik dari 10 partai menjadi 3 partai hingga lima pemilu berikutnya (1977, 1987, 1992, dan 1997.) yang dimenangkan oeh Golkar.

Pemilu berikutnya pasca pemerintahan Orde Baru terjadi pada tahun 1999 dibawah Presiden B.J. Habibie. Pemilu ini diikuti oleh 48 partai politik. Lima besar Pemilu 1999 adalah PDIP, Golkar, PBB, PKB, dan PAN. Walaupun suara terbanyak diperoleh PDIP, namun yang diangkat jadi presiden adalah Abdurrahman Wahid dari PKB, karena pemilihan presiden dan waki dilakukan oleh MPR.

Pemilu 2004 diselenggarakan untuk memiih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD sebagai lembaga baru yang ditujukan untuk mewakili kepentingan daerah. Pada pemilu ini, dengan slogan “Bersama Kita Bisa” nama SBY-JK keluar  menjadi pemenang.

Pada Pemilu 2009 perang slogan politik tak terhindarkan. Pasangan SBY-Boediono dengan slogan “SBY Dua Periode”, “SBY berBUDI” kembali memikat hati rakyat. Pasangan SBY-Boediono menjadi pemenang dalam satu putaran langsung dengan suara 60,80%, mengalahkan JK-Wiranto dengan “JK-Win” dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dengan Mega-Pronya.

Seiring berkembangnya teknologi, media sosia ikut ambil bagian dalam kampanye politik. Diskusi, perdebatan, perang meme tersebar luas di aplikasi facebook, Twitter, Instagram serta media online. Metode kampanye konvensional seperti pengerahan massa disebarkan, diorganisasi dan digerakkan melalui media sosial. Media sosial dianggap lebih efektif untuk menggalang suara kalangan terdidik.

Pada pemilu 2014 yang dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Jk mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Slogan Jokowi, “Kerja, Kerja, Kerja.” Terlihat sangat sederhana namun memiliki makna filosofis yang terbukti mampu “menjual” nilai lebih pasangan Jokowi-JK.

Pemilu 2019 akan segera dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Dua slogan akan bertempur untuk merebut tempat dihati rakyat. Dua pasangan calon sudah mendaftarkan diri di Komisi Pemihan Umum. Masa kampanye belum dimulai, namun dua slogan sudah saling menghantam. #2019TetapJokowi atau  #2019GantiPresiden?

Dari berbagai sumber

Kamis, 13 Sep 18

Tukang ikan, teman mayaku.

“ Kembar tapi beda.”

Begitu bunyi komentar akun Haikal Tobias di kolom komentar foto yang ku unggah awal tahun  lalu. Awalnya aku tidak menggubrisnya. Ditilik dari fotonya, bagiku dia makhluk asing. Apalagi dari namanya, ku kira dia keturunan suku Batak atau daerah sekitarnya. Bisa jadi pemilik akun adalah satu dari ribuan orang iseng yang tersebar di dunia maya. Tapi kemudian, dia sering muncul di beberapa postingan yang ku unggah. Hatiku bertanya-tanya, mungkinkah aku pernah mengenalnya? Atau mungkin saja dia seseorang yang pernah satu sekolah atau  satu kampus denganku. Rasa penasaran itu mendorongku untuk menelusuri akun facebooknya. Hasilnya Nihil. Tidak ada keterangan apapun. Baik dimana dia tinggal, sekolah bahkan tanggal lahirnya pun tak ada. Hanya postingannya tentang politik yang lebih dominan. Aku berasumsi pemilik akun adalah orang yang mengikuti perkembangan politik atau bahkan pelaku politik. Entahlah, mungkin saja itu akun palsu. Dia cukup layak untuk di lupakan, kupikir.

Seminggu berlalu, aku sibuk dengan misi pembuatan blogku. Misi pembuatan blog ini sangat sederhana. Aku ingin blog ini suatu saat akan membantu orang mengenali sebuah kampung kecil, namanya Sipinang. Kampung ini pernah ku tinggali selama 40 hari di bulan Agustus tahun lalu. Berbekal sebuah laptop dan wifi kampus aku berusaha membuat sebuah blog. Tidak tanggung-tanggung, dua hari ku habiskan hanya untuk membuat sebuah blog sederhana. Tapi ternyata blog ini menjadi awal dunia baruku. Dunia tulis-menulis! Setelah dua tulisan ku publish dengan susah payah, ku sebut susah payah karena punggungku sampai pegal hanya untuk menerbitkan sebuah artikel! Tapi hasilnya berbuah manis. Aku mempunyai tempat untuk membuang tulisan-tulisanku di blog ini.

Tak ku sangka, blog yang ku namakan Loccocitato ini ternyata menjadi salah satu alasan saya akhirnya bertemu kawan baru. Nanda Iqbal namanya. Dia pemilik akun Haikal Tobias yang sering nangkring di kolom komentar postingan saya. Nanda Iqbal (sebenarnya aku lebih suka menyebutnya Bang Haikal)  ini adalah teman yang tidak biasa. Dia berada di dunia mayaku.  Tapi jika ku katakan dia sesuatu yang absurd, dia ada dan hidup di dunia nyataku.

Dia mengaku sebagai tukang ikan. Suku Melayu. Besar di Jakarta. Tinggal di Makassar. Aku percaya saja. Kalaupun tidak percaya apa bedanya? Dia tetap seseorang yang nyinyir menanyakan tulisan-tulisanku. Aku merasa sudah seperti penulis besar saja yang tulisannya ditunggu-tunggu. Jiaah..

Aku mulai terbiasa dengan pertanyaannya yang nyeleneh dan sudah pasti jarang di tanyakan orang padaku. Misalnya apa arti namaku, apa obsesiku, dimana tempat yang ingin ku kunjungi, apa kepandaianku selain menulis (padahal menulis pun aku tak pandai), koleksi buku apa yang ku punya, kenapa ingin  belajar bahasa Inggris, kenapa ingin ke Aceh, berapa jam perjalanan Padang-Mentawai, de el el. Berbicara dengannya (lewat chat) sudah seperti menghadap dosen. Tidak cukup cuap-cuap nggak jelas, harus punya referensi yang jelas. Pusing? Awalnya iya. Saya kelabakan menjawab pertanyaan yang diajukannya. Padahal IPK saya lebih dari 3,6. Tapi ternyata itu tidak cukup untuk melayani pertanyaan seorang tukang ikan, Hehe. Tapi lama-lama saya ketagihan ditanya. Pertanyaannya seperti stimulasi agar saya tertarik  untuk tahu lebih banyak hal. Bahkan saya sering searching untuk menjawab beberapa pertanyaan yang saya sendiri tidak yakin jawabannya.Hehe  (Sttt..ini rahasia).

Dia terbiasa memanggilku uni. Walau sudah berulang kali ku jelaskan bahwa itu panggilan untuk perempuan yang lebih tua. Tapi dia tetap kekeh ingin memanggil saya itu. Katanya supaya lebih mudah di ingat. Belakangan ketika dia memanggil nama saya Wetri, saya merasa aneh. Mungkin tidak terbiasa.

Satu hal yang menarik tentang Haikal Tobias ini adalah dia menyukai buku. Hal yang jarang ku temukan pada orang yang tidak lagi duduk di bangku sekolah. Bahkan aku sendiri tak begitu perhatian dengan buku. Sebulan paling aku hanya menamatkan satu-dua buku. Itu fase rajinnya. Anda bayangkan saja fase malasnya, hehe.

Hal yang selalu ku ingat sejak bertemu dengannya adalah “ Jangan sekali-kali meremehkan tukang ikan!”

 

Padang, 5 Maret 2017

 

 

 

Jalur Sutra

Judul : Antara Monkey King dan Hanoman

Penulis : Ira Rahmawati

 

Membaca buku karya Ira Rahmawati ini, membuat saya kebelet ingin ke Cina. Saya yang mahasiswi sejarah ini tidak pernah terpikir untuk menyusuri jalur Sutra yang legendaris itu. Berbicara tentang Cina, bagi saya yang menarik hanya tembok Cina yang didirikan oleh Kaisar Qin (baca: Cing) itu. Satu dari tujuh keajaiban dunia yang saya tahu dari guru saya di Sekolah dasar dulu. Padahal, Cina banyak menyimpan berbagai situs yang hari ini dilengkapi dengan museum yang merekam interaksi antar bangsa di sepanjang jalur Sutra ini. Konon, jalur ini dinamakan jalur Sutra karena dulu pedagang Cina menjadikan kain sutra sebagai dagangan andalannya ke wilayah bumi bagian barat hingga Eropa. Tapi ternyata jalur perdagangan ini melahirkan peradaban-peradaban sehingga daratan Cina mempunyai banyak tempat yang menyimpan harta sejarah yang tak bernilai. Ya, sebuah jalur perdagangan dari daratan Tiongkok ke negara-negara di belahan bumi bagian barat ini menyimpan harta karun itu dengan sangat apik.

Perjalanan dari Indonesia ke Cina bisa menggunakan pesawat China Southren yang merupakan pesawat termurah dari Jakarta menuju Xi’an. Tetapi jika ingin mampir ke Guang Zhou terlebih dahulu, bisa menggunakan Lion Air. Guang Zhou ini adalah gerbang jalur Sutra maritim.

Kota Guang Zhou memiliki banyak terdapat restoran muslim. Ini bisa dikenali dengan adanya tulisan halal dalam bahasa Arab di depannya. Kota Guang Zhou memiliki jalan Tua Beijing yang berumur lebih dari 1.000 tahun. Situs arkeologi jalan Tua Beijing ini di lindungi lapisan kaca tebal dan penguat baja di bawahnya. Ini berfungsi melindungi jalan Tua Beijing ini agar tidak mudah rusak. Di Kota Guang Zhou juga terdapat sebuah Masjid Agung yang katanya adalah Masjid Tertua di Cina.

Xi’an.

Xi’an merupakan Ibu kota pertama Cina bersatu. Xi’an berarti kota yang damai. Ini karena kaisar mendirikan tembok untuk melindungi Xi’an dari serangan bangsa lain. Kota Xi’an adalah titik awal jalur Sutra. Jalur ini tanpa sengaja dirintis oleh kaisar Qin ketika mengirimkan utusan ke arah barat untuk mencari sekutu yaitu bangsa Uyghur. Usaha ini tidak berhasil karena bangsa Uyghur tidak suka berperang. Tapi ternyata, utusan itu tanpa sengaja telah merintis perjalanan ke barat yang menghubungkan setidaknya empat peradaban besar Asia Timur, Asia Selatan, Afrika & Timur Tengah, serta Eropa. Akan tetapi Xi’an bukan lagi Ibukota Cina. Ibukota Cina dipindahkan ke Beijing yang lebih ke arah timur karena Xi’an sering diserang oleh bangsa Mongolia. Di Xi’an terdapat kampung muslim yang berumur lebih dari 1400 tahun. Di Cina, mereka tidak menerima pembayaran dalam mata uang dolar Amerika. Selain kampung muslim, tempat sejarah di Xi’an yang menarik di kunjungi adalah Bell Tower, Masjid Agung Xi’an, Masjid Cheng Ho, bazar malam, Museum Sejarah Xi’an, serta Museum Prajurit Terakota. Museum Prajurit Terakota merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Situs patung prajurit Terakota merupakan sebuah situs yang didirikan oleh kaisar Qin (Cing) yang tujuannya untuk memenangkan pertempuran di alam baka. Kaisar Qin adalah kaisar pertama Cina bersatu. Dialah yang menaklukan kerajaan-kerajaan di sekelilingnya dan menjadikan Xi’an menjadi ibukota negaranya.

Salah satu kota penting di jalur sutra hari ini adalah Lan Zhou. Lan Zhou berarti Kota Lan. Di kota ini terdapat sebuah Madrasah Muslimah yang menjadi tempat para muslimah Kota Lan mempelajari agama Islam. Di Cina, seluruh wilayah menggunakan waktu yang sama yaitu waktu Beijing, kecuali Provinsi Xinjiang yang berbeda 2 jam dari waktu Beijing. Di Kota Lan terdapat sungai kuning. Sungai ini di sebut sungai kuning karena airnnya berwarna kuning yang berasal dari tanah dan mineral yang terbawa air. Di sisi sungai Kuning ini tedapat monumen Mongkey King yang menceritakan tentang perjalanan seorang biarawan Budha dan seekor monyet ke arah barat. Kisah ini berkembang luas hingga keluar Cina. Akan tetapi kisah ini lebih menonjolkan peran si Kera Sakti dibandingkan sang biarawan. Selain Monumen Mongkey King juga terdapat patung Ibu Sungai Kuning dan Pagoda Putih tempat tertinggi di Kota Lan.

Jiayuguan kota Baja

Kota Jiayuguan ini merupakan sebuah kota tua yang menjadi tempat lalu lintas masuk dan keluar untuk menyeberangi Tembok Cina. Tembok Cina dibangun oleh enam kerajaan yang berbeda. Baru setelah kaisar Qin menaklukan seluruh kerajaan menyambung bangunan tembok Cina. Tujuan mendirikan tembok Cina ini adalah untuk menahan serangan dari masing-masing kerajaan dan dari bangsa Hun Mongolia.

Gua budha Mo Gao. Di tempat ini sekitar 1000 tahun yang lalu merupakan tempat persinggahan para musafir Cina untuk menambah persediaan air dan berdoa. Tempat ini merupakan tempat persinggahan sebelum menghadapi rintangan berat terutama gurun pasir yang panas, tandus, tak berair, berbadai dan perampokan. Lukisan di dalam Mo Gao ini terbuat dari pewarna tumbuhan. Oleh sebab itu, turis dilarang menggunakan Cahasa lampu kilat karena akan merusak warna lukisan. Di situs Mo Gao terdapat 700 gua. Terdapat Patung-patung Budha berwarna peach, putih, orange dan coklat tua. Di situs Mo Gao ini terdapat sebuah perpustakaan rahasia yang menyimpan puluhan ribu manuskrip dari berbagai bahasaseperti Tibet, Uyghur, dan Sansekerta.

Gurun Gobi. Telaga Bulan Sabit merupakan sebuah Oase yang berumur ribuan tahun di tengah gurun pasir. Yumen Pass Dinasti Han merupakan salah satu pintu gerbang untuk melewati tembok Cina. Gerbang ini dulu merupakan rangkaian dari Tembok Cina. Sayangnya runtuh karena gerbang ini hanya terbuat dari batu lempung dan kerikil yang tidak tahan dengan iklim Gurun Gobi.

 

Padang, 28 Februari 2017

 

Kisah Seekor Kucing

Suatu sore di bulan februari, hujan turun dengan sangat lebat. Langit seakan murka memuntahkan semua beban yang ditahannya. Kilat menyambar diikuti dengan suara guruh yang membuat suasana semakin gaduh. Hingga suara adzan maghrib menjelang hujan tak kunjung menampakkan tanda akan berhenti.

Di sebuah rumah sederhana, suasana tampak hangat. Seorang bapak paruh baya tengah bercengkrama dengan istri serta lima delapan anaknya.

Kupu-kupu

Mak, aku meracau lagi malam tadi

Tentang kupu-kupu putih yang merayap pasrah

Kakinya menapak lemah

Matanya mengiba

Tubuhnya terseret angin lembut yang membuai

Aku hendak meyentuhnya, tapi urung kulakukan. takut sentuhanku semakin menyakitinya.

Aku

Wahai Engkau, penguasa yang tengah duduk anggun di singgasana

Dengarkanlah, dengarkan aku.

Aku yang tak mampu bersitatap denganMu,

Aku yang merasa kerdil sebab kekuranganku tak mampu kututupi,

Aku yang ingin jatuh cinta seperti merpati yang setia,

Aku yang jarang mengingatMu,

Aku yang pandir dan tersesat,

Biarkan aku merasakan indahnya mencintaiMu

Biarkan aku merasakan kehadiranMu disetiap helaan napasku

Biarkan aku mencecap manis pahitnya merindukanMu

Wahai penguasa yang tengah duduk anggun di singgasana, izinkan aku merasakan aku!

Padang, 4 Maret 2017

Prasangka

“Dom, Nurmala hilang!”

“Nurmala?”

“Nurmala yang sering mencari kau kesini itu. Dia hilang.”

“Kenapa dicari? Dia tidak hilang. Dia pergi dengan kekasihnya.” Dom mengalihkan perhatian keluar ruangan.

“Kau jangan mengada-ngada! Kau tahu kalau dia hanya menaruh hati padamu!!!

“Menaruh hati?!!! Tahu apa kau tentang hati hah??!” Mata Dom berkilat karena marah.

“Kau terlalu picik! Kau yang telah mengabaikannya!”

“Kar, Aku tidak mencintainya.”

“Tidak mencintainya? Setelah mempermainkannya???”

“Kar! Kenapa kau tak mengerti. Bukan mudah bagiku untuk jatuh hati. Aku hanya ingin istirahat sejenak.”

“Dom, itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Engkau ditinggal oleh istrimu, Hingga kau mengabaikan Si Nurmala yang tiada cacat itu…”

“Kau bilang tiada cacat? Dia yang telah menghancurkan rumah tanggaku! Hingga aku kehilangan anak dan istriku. Paham!”

“Dom, kau harus memisahkan keduanya! Nurmala dengan Martini itu berbeda. Nurmala mencintaimu dari dulu sampai sekarang, sedangkan Martini..”

“Kar!!! Jangan pernah kau bandingkan Martini dengan Nurmala. Mereka memang jauh berbeda. Nurmala itu hanya perempuan murahan yang terus menggodaku walaupun dia tahu aku sudah beristri.

“Baiklah, Dom. Jika itu yang kau mau, tapi jika kau kehilangan perempuan yang kau cintai sekali lagi, maka tak ada perempuan lain yang patut menaruh hati kepadamu.”

“Aku tidak mencintainya, tak akan pernah!”

Dom masih termanggu ketika ditinggal pergi oleh Karma sahabatnya. Sekelebat bayangan Martini dan seorang laki-laki sedang bersenda gurau di ruang tamu membuat hatinya pilu. Sebuah jaket jeans lusuh yang bukan miliknya, teronggok diatas meja. Puntung rokok yang masih berasap di ruang tamu menyapa kedatangan Dom. Keduanya terkejut. Mata Dom berkilat menyala menatap lelaki yang sedang termanggu. Seketika, kerah baju lelaki berani itu terangkat dan badannya jatuh menghempas kursi. Lelaki itu meringis kesakitan, jeritan suara Martini semakin membakar amarah Dom. Napas Dom memburu tak terkendali, Dom kerasukan hantu amarah. Membanting, memukul, hingga membenturkan kepala lelaki itu hingga tak berdaya. Martini menjerit sejadi-jadinya. Dom, semakin menggila. Martini yang tengah mengandung, diseretnya keluar. Rambutnya yang hitam lebat, seketika menjadi lusuh dan tak ubahnya kumpulan ijuk yang rontok. Martini, menggelijang memegangi rambutnya yang panas karena disentak Dom sekuat tenaga. Dom, masih tak berhenti ketika menuruni tangga. Martini jatuh terguling hingga terkulai tak berdaya. Mulut dan kepalanya mengalirkan darah segar. Seketika Lelaki yang bersama Martini itu, berlari memeluk Martini yang tengah terkulai.

“Engkau Laki-laki biadab!”Lelaki itu berteriak memaki Dom” Dia tengah mengandung Anakmu, dan kau memperlakukannya seperti binatang!”

“Anakku? Jangan kau katakan itu anakku, jika kau begitu leluasa menemui perempuan itu dirumahku!”

“Kau dengar! Aku sungguh menyesal, membiarkan dia hidup menderita menjadi binatang peliharaanmu disini. Kau ceraikan dia! Biar aku yang akan membahagiakan dia dan mengurus anakmu. Aku tidak sudi melihat mereka jadi peliharaanmu disini!”

“Baik. Kalian memang pantas! Sama-sama tidak tahu malu. Aku juga tidak sudi melihat perempuan yang mengandung anakmu itu disini!”

“Anakku? laki-laki seperti engkau memang tidak pantas untuknya!”

***

Setelah kejadian itu, Dom menyendiri meratapi nasib. Martini…perempuan yang dicintainya itu menginginkan perceraian setelah melahirkan anaknya. Bayi laki-laki yang mungil itu, memiliki mata besar dan tajam seperti miliknya. Hidungnya mancung dan berambut lebat. Tak salah lagi, anak itu persis seperti foto yang terpampang dirumah ibunya di kampung. Dom menatapnya lama sekali, diliriknya Martini yang memalingkan wajah setelah menyadari kedatangannya. Entah mengapa, dengan membawa hati yang tak tertanggungkan Dom memberanikan diri untuk melihat bayi yang dilahirkan Martini. Keingintahuannya tentang bayi itu lebih besar dari amarahnya ketika melihat lelaki itu bersama istrinya dulu. Martini menangis terisak mengingat perlakuan suaminya kepada dirinya. Luka yang begitu dalam, kini berdarah dan menganga.

“Jangan kau sentuh bayiku sedikitpun! Aku tidak akan membiarkannya!”

“Dik…..” Dom tercekat. Dengan sesal yang teramat sangat, Dom tak mampu menatap Martini yang sedang menatapnya lekat.

“Apa? Apa yang ingin kau katakan hah! Aku perempuan jalang? Perempuan tidak tahu malu?!!”

“Dik, aku……menyesal. aku…….tak dapat menahan amarahku melihatmu bersama laki-laki itu.”

“Menyesal kau bilang??? Kau memukul Abangku membabi buta, kau menyeretku tanpa belas kasihan saat aku mengandung anakmu, dan tanpa mendengarkan penjelasanku…kau mengusirku seperti anjing…dan kau bilang kau menyesal?” Martini menangis sejadi-jadinya. Anaknya tersentak, dan ikut menangis.

“Abang???a…aku tak tahu…”Dom tergagap

“Tahu apa kau hah? Kalau setiap malam kau pergi dengan Nurmala! Kau pikir aku tak tahu, apa yang kau lakukan??! Sekarang cukup, aku sudah muak denganmu. Ceraikan aku!”

“Nurmala?” Bayangan Nurmala hadir dibenaknya. Di rumah Nurmala kekasih gelapnya itu, ia memberitahu bahwa ada lelaki dirumahnya. Dengan tergopoh-gopoh Dom pulang menuju rumahnya, dan benar saja ada seorang lelaki yang tengah bersenda gurau dengan istrinya. Setelah itu…segala kesalahan pun terjadi.

“Dik….a…ku tak sanggup. Bagaimana dengan anak kita?”

“ Anak kita katamu? Dia hanya anakku, aku yang melahirkannya. Maka akulah ibu, sekaligus bapaknya!”

Terenyuh batin Dom menatap mata istrinya yang berkilat marah. Dengan langkah gontai, Dom beranjak meninggalkan ruangan tempat anaknya yang masih merah.

“ Bagaimana dengan janjimu, Martini?” Dom membatin.

***

Martini menatap bayi merahnya dengan tatapan kosong.

“Inikah akhirnya? Aku kah yang harus membesarkanmu sendiri?”

 

 

Surat

Aceng masih duduk diam tak bicara. Kopi hitam yang dipesannya sejam yang lalu sudah lama tandas. Asap rokok mengepul indah di udara, membentuk gumpalan-gumpalan putih hingga kemudian menghilang perlahan. Udara dingin makin menusuk kulitnya yang hanya dibalut baju kaus lusuh. Hasil ikut kampanye tahun lalu. Warnanya yang putih, sudah tak terang lagi. Agaknya masa  telah menodai kesuciannya. Aceng membetulkan posisi duduk yang dari tadi bersandar di dipan warung Wak Yati. Dia tak duduk sendirian. Didepannya duduk seorang pemuda yang tepekur menatap tanah, diam tak bicara. Raut wajahnya kelam, seperti mendung sore tadi. Di tatapnya lamat-lamat lawan bicara yang sedari tadi menunggunya membuka suara. Aceng menghembuskan napas dalam, seolah hendak membuang beban berat yang menggelayuti pikirannya.

“ Din, engkau tahukan bahwa aku telah menganggapmu lebih dari saudara?”

Aceng menatap lekat lawan bicaranya.

Orang yang dipanggil Din itu mengadahkan pandangan, kemudian menunduk menatap tanah. Diam seribu bahasa.

“ Aku…sejak kau terjun merenangi Sungai Sikayam untuk menyelamatkan putraku dulu, sungguh aku ingin menjadikanmu saudara”.

“ Jika maksudnya hutang budi, mas sudah membayarnya” Rudin menjawab dingin, masih menatap tanah

“Aku sungguh tidak menyangka dia akan kembali, dan…” kalimat Aceng menggantung

“ Dan dia akan hidup bersama Mirna.” Rudin bergumam dingin.  “ Seharusnya mas katakan dari dulu! Mengapa kau tega membodihiku mas!”

Rudin tertunduk dalam. Aceng membisu. Malam semakin larut. Kabut sempurna menyelimuti jalanan Kampung Sepinang.

“Aku merestuimu, aku berharap Mirna bahagia hidup denganmu.”

Rudin tak bergeming. Aceng melanjutkan kalimatnya.

“Dia…bajingan itu telah meninggal 2 tahun lalu Din. Ruhnya sudah ku kubur di depan pintu masuk rumahku!”

“Tapi jasadnya masih hidup Mas. Dan aku…tak boleh ada di antara mereka!”

“ Engkau suami sah Mirna! Engkau lebih berhak Din!” Suara Aceng meninggi

***

Rudin beranjak menuju peraduan. Bayangan Mirna menari-nari di pelupuk matanya. Mirna, perempuan yang setiap pagi di jumpainya menenteng dua ember besar air tersenyum padanya. Mirna, orang pertama yang tersenyum padanya sejak dia memutuskan untuk merantau ke tanah seberang. Sejak hari itu setiap pukul tujuh pagi, Rudin harap-harap cemas menunggu senyum tipis dari perempuan bertahi lalat itu. Sungguh indah. Rudin yang tak pernah jatuh hati itu, di buat mabuk kepayang karena rindu.

Ternyata takdir telah bersajak dengan indah. Di suatu sore yang tenang, Rudin yang sedang memancing ikan dikejutkan oleh suara benda jatuh tercebur ke dalam sungai. Dari jauh, di atas jembatan titian terlihat dua pemuda tanggung sedang bersorak-sorak meminta tolong. Tanpa pikir panjang, Rudin terjun merenangi air sungai Sikayam yang hijau berlumut. Tak jarang buaya muara menelisik diantara tumbuhan enceng gondok. Dengan susah payah, Rudin berusaha menyeret tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu. Beberapa saat kemudian, segerombolan pemuda tanggung datang menggotong tubuh yang lemah itu. Rudin tak pernah menyangka, kejadian sore itu ternyata menghantarkannya pada gadis yang dimimpikannya siang dan malam. Pemuda tanggung itu putra semata wayang Aceng yang tidak lain kakak perempuan pemilik senyum tipis itu.

Hari-hari Rudin bergelimangan madu sejak hari itu. Pasalnya perempuan pemilik senyum tipis itu sudah tak hanya tersenyum, tapi juga sudah mau menyapanya. Sesekali perempuan itu mengantarkan makanan ke kontrakannya. Sungguh, keindahan tak terperi bagi Rudin ketika dia mengutarakan maksud hatinya untuk meminang si gadis impian, Gayung bersambut! Si gadis mengangguk tanda setuju.

Seperti menemukan sebongkah berlian, Rudin benar-benar beruntung memiliki istri sebaik Mirna. Mirna, ya Mirna. Istri yang saban hari menunggu dia pulang. Menyiapkan air panas setiap kali dia hendak mandi. Bertanya apakah dia mau minum teh atau kopi. Tak pernah mengeluh dengan uang gajian yang tak seberapa. Merengek jika malam minggu menjelang, katanya ingin naik komedi putar berdua. Sungguh manis seperti madu.

Tapi takdir yang bersajak dengan indah itu berakhir dengan kejam. Hari-hari bergelimang madu itu segera berlalu. Yang tersisa hanya kepahitan. Di suatu sore yang cerah, Rudin menerima sepucuk surat yang barangkali nyasar kekediamannya. Pasalnya, dia ataupun Mirna tak pernah menerima surat dari siapapun sebelumnya. Tapi, surat itu jelas ditujukan untuk Mirna.

Kepada : Mirna Sulastri

Alamat : Kampung Sepinang, Rt II, RW VI, no.23

Penasaran dengan isinya, Rudin segera membuka surat yang bersampul biru itu.

 

Assalammua’laikum dik Mirna,

Maafkan mas, karena tak menghubungimu selama ini dik. Bukan karena terlupa, sama sekali bukan. Tiada hari tanpa memikirkanmu dik. Dua tahun terakhir mas bekerja di sebuah kapal barang sebagai kelasi dik. Mas beruntung bertemu bos yang baik. Dia menggaji mas dengan gaji yang pantas. Mas mengarungi samudera dik, mengumpulkan uang demi mewujudkan impianmu untuk punya rumah. Mas sudah sanggup membelinya dik, tabungan mas sudah cukup untuk membeli rumah di sudut kota seperti impianmu. Dik, besok mas pulang akan pulang menjemputmu. Mas merindukanmu dengan teramat sangat.

Peluk cium untuk istriku tercinta

 

Kumbara

Padang, 21 Februari 2017

 

 

Elisa Part 2

Pulau

Matahari bertahta kokoh disinggasananya. Sudah genap empat jam aku duduk diatas biduk tua ini. Kakiku sudah enggan digerakkan, sementara tubuhku sudah bermandi peluh. Sesekali kudauh air sungai untuk membasahi kulitku yang mengering. Satu-dua biawak terlihat merayap di semak-semak berusaha memanjat tebing. Laju biduk merambat perlahan. Aku tidak peduli. Aku bahkan sudah lupa dengan euforia mengalahkan biduk gaek Pitok. Aku mencoba menyandarkan kepala di tepi biduk, mencoba memejamkan mata, agaknya pucuk kelapa masih menyembul empat-lima jam lagi.

“Elisa!!! coba lihat apa itu!”

“Apa itu bak???” Aku yang belum sepenuhnya sadar, terperanjat demi mendengar seruan bapak.

Aku terperangah. Belum pernah ku lihat pemandangan ini. Didepan biduk kami, sedang berenang dua makhluk bertubuh besar. Kulitnya yang kuning kecoklatan mengkilap diterpa terik matahari. Diatas kepalanya tumbuh semacam ranting kokoh bercabang. Tubuh besar kedua makhluk itu sempurna terlihat setelah berhasil mencapai daratan.

” Itu rusa Eli, mungkin tersesat” Bapak menjelaskan

” Bukan bak, mereka tidak tersesat. itu lihat! mereka sedang main kejar-kejaran bak!” “Ayo Cepaaat!!! si ringkih dibelakangmu!!! aku bersorak menyemangati rusa besar favoritku. Rusa itu agaknya paham maksudku, keduanya kini tengah berlomba-lomba memanjat tebing.

Sejak melihat rusa tadi, aku jadi enggan memejamkan mata. Siapa tahu nanti ada pemandangan menarik lagi. Bisa jadi nanti mendadak muncul badak, buaya atau bahkan kambing hutan yang langka. Terang saja, dugaanku ternyata benar. Kali ini bukan badak, buaya atau bahkan kambing hutan yang langka itu, dihadapan kami sudah membentang Pulau Tinggi. Ya, pulau dengan pasir putih menawan sedang menggoda minta disinggahi.

Selang beberapa menit, biduk merapat. Aku tak sabar ingin menginjakkan kaki di tepian Pulau Tinggi. Pulau alami hasil bentukan alam ini memang banyak ditemukan di sepanjang aliran sungai Batuang. Selain karena pasir putihnya, pulau ini adalah pulau terbesar dan tertinggi diantara pulau-pulai lainnya. Itu sebabnya, Pulau Tinggi ini menjadi primadona bagi para pengemudi biduk yang hendak pulang ke hulu.

Aku melompat menuruni biduk. Seketika aku terperangah, hawa panas tanpa ba-bi-bu menjalari telapak kakiku yang telanjang.

“Panaskan?” Kulihat bapakku tersenyum simpul melihat kelakuanku

Aku tak berniat menjawab, karena aku tengah berlari terjingkat-jingkat menghindari pasir putih yang garang itu.

Mak dan gaek Pitok membuka bungkus makan siang kami. Nasi putih yang menyembul diatas daun pisang serta gulai asam pedas gurame, membuatku meneteskan air liur. Aku mendadak lupa ingatan. Satu persatu bagian tubuh gurame meluncur kedalam mulutku. Sampai pada suapan terakhir, aku lamat-lamat mendengar suara ayam berkokok.

“Bak, aku mendengar suara ayam bak.”

“Mana ada ayam disini Eli, kan tidak ada ladang.” Bapak yang tengah makan menyahutku di sela-sela kunyahannya.

“Benar  Bak, Eli dengar kok.” aku meyakinkan

“Sudah, itu mungkin suara burung Eli.”

” Emang burung bisa berkokok ya Bak?” aku menatap bapak menunggu jawaban.

“enghhh…”

“Kukuruyuuuk”

“Tuh kan Bak, itu suara ayam.” Aku segera bangkit mencari sumber suara. Aku yakin itu suara ayam.

Bapak juga beranjak dari tempat duduknya. Bapak mengikutiku dari belakang. Kami menyusuri hutan Aru dengan mengendap-endap. Semakin ke dalam, hutan semakin dipenuhi semak belukar. Pohonnya juga semakin besar. Aku berhenti, membiarkan Bapaak mendahuluiku. Suara kokok ayam terdengar lagi. Kali ini lebih pelan. Aku terus mengikuti langkah bapak dengan hati-hati. Bapak mendadak berhenti.

“Auuu” aku menubruk tubuh bapak.

“Ssssssttt” bapak mengisyaratkan aku untuk diam.

“Apa Bak?” Aku berbisik pelan. Jantungku berdetak lebih cepat. Bulu kudukku merinding memperhatikan sekitar. Bapak tidak menyahut. Kaki bapak kembali melangkah dengan hati-hati. Seketika penyesalan menggelayuti pikiranku, aku hendak pulang ke tempat Mak, tapi hutan di belakangku terlihat menyeramkan. Aku terpaksa terus mengikuti bapak. Bapak berhenti di balik dahan pohon aru yang patah. Bapak menunjuk ke arah semak-semak . Seketika mataku  mengikuti arah telunjuk bapak. Ternyata suara itu…