Mengenal Sipinang, Palembayan, Agam.

Selamat siang guys, kali ini saya akan berbagi informasi tentang sebuah nagari dingin nan mempesona. Namanya Nagari Sipinang, Kec. Palembayan, Kab. Agam. Belum pernah dengar kan? Jangan bayangkan kalau di Nagari ini penduduknya suku mentawai ya..seperti informasi pertama yang kami dengar waktu pertama kali tahu kami ber- KKN di nagari ini. Itu salah besar guys, penduduk nagari ini 100% orang minang asli yang berasal dari Bukittinggi dan sekitarnya. Bahkan di Jorong Paraman, masih kita dengar sebutan Biay untuk ibu.Β 

Nagari Sipinang ini, terdiri dari tiga jorong. Namanya Jorong Kampuang Tabu, Jorong Sipinang, dan Jorong Paraman. Nagari ini memiliki 3 Masjid danΒ  3 Surau. Masing-masing Masjid tersebar di setiap jorong. Hanya di Jorong Paraman memiliki 3 surau, hal ini disebabkan oleh kondisi wilayah Jorong paraman yang terpisah oleh bukit-bukit.

Nah, karena saya ber-KKN di Jorong Sipinang. Jadi, saya akan menguraikan beberapa fakta unik tentang Jorong Sipinang.

  1. Nama Sipinang, bukan berarti sepi dan tenang ya..Sipinang

    berasal dari kata Sipi, yang berarti tepi. Hal ini disebabkan karena letak pemukiman penduduk di wilayah perbukitan yang dikelilingi ngarai.

  2. Jorong Sipinang memiliki posisi yang strategis terletak di tengah-tengah Nagari Sipinang, yaitu antara Jorong kampuang Tabu dan Jorong Paraman. Jorong sipinang ini memiliki luas kurang lebih 300 Ha yang terdiri dari pemukiman, sawah, ladang dan hutan.
  3. Jarak tempuh dari Jorong Sipinang ke Kec. Palembayan adalah 11 KM, Sedangkan ke Kabupaten Agam sekitar 50 KM. Akses jalannya masih kecil ya guys, hanya bisa dilewati mobil minibus karena kondisi wilayahnya berbukit-bukit, jadi jalannya berkelok dan menanjak.
  4. Jumlah penduduknya hanya 124 Jiwa. Yang terdiri dari 68 Laki-laki dan 56 Perempuan. Mayoritas penduduk pribumi asli Minangkabau dan beragama Islam.
  5. Menurut keterangan Bapak Ardinal, wakil Kepsek SD N 22 Sipinang, sekolah ini pernah di nobatkan sebagai SD N terkecil di Indonesia karena jumlah muridnya hanya 8 orang. Sewaktu saya KKN di Jorong Sipinang Tahun 2016, jumlah muridnya hanya 12 orang. Dan gurunya yang aktif cuma 2 orang.
  6. Bagi yang suka mengendarai motor trail, nah bisa melewati jalur Bukittinggi Palembayan. Di jamin, jalurnya menantang buat kamu yang bernyali.
  7. Makanan Khasnya adalah Pawa. Pawa itu merupakan makanan yang terbuat dari buah nangka yang masih kecil, jeruk nipis, cabe rawit, kemudian bawang merah yang ditumbuk halus mengggunakan lesung. Ini nih, yang bikin perantau rajin pulang kampung setiap tahun. Kata penduduk setempat, makanan ini bisa menyembuhkan demam lho.(tapi bagi saya rasanya aneh, mungkin belum terbiasa kali ya..hehe. skip)
  8. Yang unik dari budaya Sipinang adalah Simuntu yang hanya keluar pas lebaran. Simuntu ini akan melakukan tarian di sepanjang jalan Sipinang. Orang yang menjadi Simuntu ini menggunakan ijuk untuk menutupi seluruh badannya. Tujuannya adalah untuk menghibur perantau yang pulang kampung. Ini nih yang bikin rame pas lebaran.
  9. Disini belum ada listrik permanen ya guys, baru ada PLTA mini yang pemakaiannya terbatas. Satu rumah hanya kebagian 0,5-1 Ampere. Jadi serba susah, nggak bisa nyetrika baju, dll.
  10. Walaupun nagarinya dingin, disini tidak ada sumber air seperti sumur ya guys. Karena letak wilayahnya di perbukitan jadi sumber airnya jauh di bawah ngarai. So, masyarakat disini membuat bak mandi berukuran besar untuk menampung air hujan. Yang susahnya kalau musim kemarau, suhunya dingin banget tapi airnya Nggak ada. (Kami bhkan pernah g mandi selama tiga hari, hehe)
  11. O ya..penduduknya..di jamin ramah sama orang asing. Jadi, kalau mau ngerasain bagaimana kearifan lokal yang masih terjaga..kesini aja.
  12. Alamnya masih asri banget guys..so, bagus untuk kesehatan. kalau mau istirahat dari hiruk pikuk perkotaan, disini boleh di jadikan tujuan.

Sekian untuk kali ini ya guys, terima kasih, semoga bermanfaat.

Note: Mohon koreksi, kalau ada keterangan yang salah.(0_0)

Β 

Iklan

Day 2, 03 September 2022 Ujian

Tidak ada yang menyukai ujian.

Ujian itu tidak enak. Menyebalkan. Dan bikin pusing.

Karena harus bersusah payah belajar, dan memikirkan jawabannya. Jawaban dinilai, sementara persoalannya secanggih apapun tidak pernah bernilai. πŸ˜‚

Pun begitu, semua orang tetap bersedia untuk ujian berkali-kali, bahkan tak terhitung jumlahnya.

Sederhana.

Karena semua orang tahu, jika ingin naik kelas harus melewati ujian lebih dulu.

Hidup adalah silih bergantinya ujian.

Selesai yang satu kemudian beralih ke ujian yang lain.

Dari yang mudah, sampai yang complicated.(rumit)

Ada yang dapat soal baru, ada juga yang terus remedial. Mengulang persoalan yang sama.πŸ˜‚

Yang terakhir ini, jenis ujian yang menyebalkan untuk dijalani. Persoalannya itu-itu saja. Sedangkan kita sudak muak, karena setelah sekian purnama terlewati masih saja berkutat dipersoalan yang sama.

Well, persoalan hidup yang sama dan menyebalkan itu, sebetulnya karena kita belum lulus di soal itu, sehingga Tuhan memberikan remedial dipersoalan yang sama.

Jika soalnya diberikan guru, kita sudah pasti protes minta diganti soal yang baru. Padahal hanya guru yang paling tahu kemampuan kita(πŸ˜‚).

Ibaratnya : Lu belum mampu yang ini berani-beraninya minta soal yang lebih tinggi?🀣

Ingat, cuma guru yang tahu kemampuan muridnya.

Dan, tak ada guru yang ingin muridnya tidak lulus ujian.

Guru yang baik justeru mau menunggu dan memberikan muridnya waktu untuk mengunyah dan mencerna pelajarannya.

Masa kita yang murid, justeru yang nggak sabaran?🀣

Cintailah proses, karena sepahit-pahitnya yang kita jalani sekarang, akan membawa kita naik kelas. πŸ˜‰

Ujung Tanjung, 03 September 2022

Pic Source : @kalelaurent(twitter)

Day 1, 31 Agustus 2022 Intro

It’s been a long day yaa, nggak pernah lagi menulis.

Niat sih selalu ada, tapi realisasinya luarbiasa berat. hehe

Belakangan ini sedang sibuk mengurus kelas (Siswa)yang tentu saja tidak mudah untuk dijinakkan. πŸ˜‚ Secara emosional, mereka bisa membuatmu berganti ekspresi seperti cuaca di musim pancaroba.

Btw, cuaca memang sedang Pancaroba, dan itu membuatku kurang fit akhir-akhir ini, tenggorokan sakit, kepala memberat (rasanya, bukan massanya yaaπŸ˜‚), dan suhu udara lebih dingin. (Sedangkan cuaca biasa saja membuatku tidur dengan kaus kaki, dilema orang kurus you know).

Dan… sejak tanggal 27 kemarin hingga detik ini deg-degan menunggu hasil pretest ujian profesi, agar bisa diakui sebagai guru betulan harus dan wajib mengikuti ujian ini. Tapi ya nggak enak banget menunggu.πŸ˜‚ Tiap saat ngecek akun, tapi tetap belum ada perubahan.hiksπŸ˜‚

Namanya juga life- yaa, hidup dari ujian yang satu ke ujian yang lain.

Tapi apapun soalnya semoga selalu bertemu dengan jawaban-Nya, tidak penting cepat atau lambat, yang penting harus optimis!!!πŸ’ͺ

Source pic :Liputan6.com

A war inside you

Seringkali dipikiran terlintas soal :

Apa yang membuat seseorang dapat memenangkan kehidupan?

Punya uang yang bisa dibelanjakan tanpa perlu menawar harga?

Punya rekan kerja yang mendukung setiap kaki menapaki jenjang demi jenjang karir ?

Punya teman yang mau menerima kekurangan-kekurangan yang memalukan?

Punya pasangan yang selalu menatap dengan binar?

Punya orang tua yang selalu ada, sebagai tempat pulang?

Apakah harus punya segalanya, baru hidup bisa dimenangkan?

Atau sebenarnya kemenangan itu ada di dalam diri?

Menjadi bijak seiring bertambahnya usia, menjadi berani karena tahu tak ada hal yang akan hilang pada diri, toh pada dasarnya manusia tak punya apa-apa. Atau menjadi orang yang optimis dengan harapan baik, tidak melihat jalan buntu, tetapi selalu mencari cahaya kecil di tengah gelapnya kehidupan. Penuh maklum, bahwa tak semua yang menjadi keinginan akan wujud.

Please, milikilah harapan bahwa kau akan memenangkan kehidupan. Apapun perang yang sedang kau hadapi. Sekalipun berdarah-darah, penuh air mata, hadapilah, jangan menyerah. Menangilah kehidupanmu!

Temui Tuhan dengan kepala tegak, bahwa kau telah memenangi pertempuran.

10 Maret 2022, Ujung Tanjung

Lelaki Biasa~1

Aku ingin bercerita tentang seseorang, entah kau akan tertarik atau tidak, entah kau peduli atau tidak, aku akan tetap menuliskannya…

Tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.

Dia, ayahku.

Ayahku seperti ayah kebanyakan. Tidak hebat, biasa saja.

Benar, aku tidak menuliskan seseorang yang terkenal, atau seseorang yang penuh manfaat, tapi aku akan menuliskan segala sesuatu yang ku ingat tentang lelaki biasa ini.

Karena aku takut, ingatan di memoriku akan hilang seiring waktu, sementara aku tidak ingin melupakannya.

Maka dari itu, hari ini akan mulai ku tulis satu persatu tentang dia, lelaki biasa yang kucintai itu…

Ujung Tanjung, 05 Oktober 2021

Menangguk Udang

Aku adalah anak paling bungsu di keluargaku.

Punya seorang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan.

Sejak kecil, kami terbiasa ikut ke ladang tempat Ibu-Bapak kami mencari penghidupan.

Kami mempunyai rumah ladang yang cukup nyaman. Sebuah ruang utama untuk tidur lima orang anggota keluarga, tempat bapak duduk ngopi sebelum bekerja, tempat ibu menjahit baju yang robek, dan tempat makan. Sementara ruang yang lebih kecil adalah wilayah kekuasaan Mak kami tercinta.

6 Oktober 2021

Tiang Rumah Telah Roboh

Beberapa hari terakhir, waktu berjalan begitu cepat.

Belumlah sempat tertelan, hidangan berikutnya telah tersaji di depan mata.

Pahit, hambar, hampa…

Ingin rasanya berhenti, mencerna setiap peristiwa,

“Mengapa ini terjadi?”

“Mengapa terjadi sekarang?”

Ayah telah tiada,

Tiang rumah kami telah roboh…

07 April 2021

Kenapa harus mengatur uang?

Waktu kecil, aku belajar soal uang secara otodidak. Sebab di depan rumah orangtuaku punya warung kecil-kecilan, sehingga mau tidak mau aku bersinggungan dengan uang.

Aku belajar mengenal nominal, menghitung kembalian, cara membelanjakan uang, dan berjualan es jambu aku sehingga aku bisa menghasilkan uang.

Mengapa uang begitu penting? Hampir semua lini kehidupan bersentuhan dengan benda ini.

Suka atau tidak, di kehidupan modern ini uang begitu menguasai. Pernah baca meme, “Beli mobil untuk berangkat kerja, berangkat kerja untuk bayar cicilan mobil?”πŸ˜… Sekilas, analogi ini terdengar lucu. Tapi jika dipahami, analogi ini ada ironi betapa uang begitu menguasai kehidupan manusia hari ini. Seolah hidup adalah untuk mencari uang.

Kerja banting tulang, dari pagi hingga sore, sepanjang hari, sepanjang minggu, untuk mendapatkan uang. Seringkali mengorbankan waktu dengan keluarga, mengabaikan kesehatan, bahkan yang paling parah lupa soal halal-haram. Hingga dipenghujung usia, oh, baru tersadar ternyata sepanjang hidup ternyata diperalat oleh uang.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Kenapa kita bisa diatur benda mati?

Jawaban sederhananya, mungkin karena kita tidak pernah belajar tentang bagaimana caranya mengatur uang. Sehingga tanpa sadar, uanglah yang mengatur kita.

Mulai sekarang, tanamkan dalam pikiran bahwa uang adalah alat.

Sebagaimana alat, uang adalah kendaraan untuk kita mencapai tujuan.

Terserah, apakah tujuan hidup ingin berguna bagi sesama, ingin beribadah dengan leluasa, ingin mendapat berkah dengan harta. Silahkan. Gunakan uang sebagai alat untuk mencapainya.

Pandailah mengatur uang, jika tidak ingin uang yang mengatur kita.

Sekian.

Dear, Bapak

Sudah beberapa purnama berlalu, Bapak…

Tapi, rasanya baru kemarin aku pulang, sampai di shubuh hari untuk mendapati kau tak ingin melihatku lagi

Belum ku bongkar kurma dari koper, niatku ingin membuatmu merasakannya berharap kau bisa kuat, bapak

Tapi, kau tak memberiku kesempatan

Padahal puluhan jam perjalanan ku lalui demi menemuimu

Engkau jahat, Bapak.

Tapi aku tidak bisa marah

Walaupun rasanya aku ingin meledak dalam tangis, tapi tak bisa!

Aku ingin menangis di depanmu, tapi kau menutup mata tak pernah memberiku kesempatan

Aku bertanya-tanya, apa kau mendengar saat aku memintamu membuka mata ketika kita berdua di ICU

Kau menangis, tapi tak mau melihatku!

Aku ingin marah, tapi menunggu hingga kau membuka mata agar kau lihat betapa marahnya aku karena kau tidak menunggu, Bapak!

Tapi kau meninggalkanku…

Untuk waktu yang lama…

Aku gamang bapak!

Selama ini kakiku yang terus meninggalkanmu, untuk kembali lagi padamu, selalu begitu

Tapi sekarang, kau yang pergi…

Aku marah, sungguh!

Aku menyesal,

Aku sayang padamu

Bapak…